lanjutan


Esok harinya jum’at pagi tanggal 12 Februari 2010 kami berkordinasi dengan Dinsos Kota Padang yaitu Ibu Fitri, Pak Nahar TRC DEPSOS dan sorenya jam 15.24 koordinasi dengan Paguyuban Mahasiswa Padang. Kordinasi dengan pihak Dinsos Padang untuk mencari informasi dan observasi langsung ke alamat klien, apakah betul klien adalah warga sana yang masih mempunyai keluarga, tinggal menetap sesuai dengan alamat klien, sedangkan dengan Pak Nahar TRC DEPSOS kami melaporkan, meminta saran dan masukan bagaimana caranya untuk dapat menyelesaikan masalah klien. Dengan Paguyuban mahasiswa padang kami menceritakan masalah klien “Y”, mencari solusi untuk pemecahan masalah klien yang selalu ingin segera pulang ke Padang dan akhirnya mahasiswa paguyuban padang mau dan sanggup untuk memfasilitasi kepulangan klien dan beberapa sakti peksos Bandung berinisiatif mengumpulkan sejumlah uang untuk bekal klien diperjalanan. Pukul 20.15 sehabis pulang dari belanja untuk perbekalan klien, kami sakti peksos membantu klien “Y” menyiapkan barang-barangnya untuk pulang besok, sambil reasesmen masalah klien. Kami sakti peksos kaget klien “Y” mau bercerita dan menunjukkan bukti bahwa klien benar-benar di pukuli oleh anaknya, klien memperlihatkan gulungan rambut yang masih ada karet pengikatnya yang klien simpan rapi di dalam saku celananya dan membuka kerudung untuk memperlihatkan bekas rambut yang di tarik anaknya. Klien sambil menangis menceritakan masalahnya kepada kami, klien senang bertemu dengan kami sakti peksos yang mau membantunya untuk dapat pulang kembali ke Padang, “amak tak tau kalau tidak bertemu dengan kalian nasib amak seperti apa sekarang, amak ucapkan terimakasih untuk semuanya, amak ndak bisa membalasnya, hanya ucapan terimakasih yang sedalam-dalamnya dan nanti amak akan tetap bertani aja di Padang, bekal amak mau amak belikan bibit jagung dan cangkul. Amak sudah memaafkan kesalahan anak amak, tapi amak tidak mau lagi ketemu dengan anak amak dan tidak mungkin anak amak mau pulang ke Padang, pokoknya amak tidak mau lagi melihat muka anak amak”. Klien “Y” mengalami trauma psikis, hal ini terbukti dengan ucapan klien yang selalu bilang tidak mau lagi bertemu dengan anaknya, karena klien merasa sangat terpukul atas perlakuan anaknya yang kasar dan sangat membekas dihati klien, kami sakti peksos berusaha menguatkan klien dengan membujuknya agar tidak memutuskan pertalian darah dengan anaknya, tetap tinggal di kampung dengan anak bungsunya dan tetap bertani. Menurut cerita klien, anak bungsunya Yandra tinggal denganya, tidak pelit, peduli dan selalu memikirkan klien, sedangkan anaknya yang lain tidak tinggal dengan klien. Klien mempunyai (8) delapan anak, yang mengajaknya berangkat ke Denpasar Bali adalah anak ke-4, yang dianggap paling kaya dan terpandang oleh keluarganya. Anak klien ada juga yang menjadi TKW di Malaysia, tetapi jarang pulang kampung, jika pulang 4 sampai dengan 5 tahun sekali, sedangkan anak yang lainya tinggal di Kota Padang dengan bekerja sebagai buruh serabutan dan bertani.
Esok harinya sabtu tanggal 13 Februari 2010 kami kumpul di kampus STKS Bandung pada pukul 07.00 untuk bertemu dengan paguyuban mahasiswa padang, pukul 07.30 kami bersama-sama berangkat ke jalan Soekarno Hatta yaitu pul Bus NPM untuk mengantarkan klien dan akhirnya klien berangkat ke padang dengan menggunakan Bus NPM pada pukul 09.30 dini hari dengan plat number kendaraan BA 3526 J. Di pul NPM kami sakti peksos bertemu dengan Bapak Nahar TRC DEPSOS yang ingin ikut mengantar dan melihat proses pemberangkatan klien, beliau juga sangat peduli dengan masalah yang dihadapi klien dan beliau sudah memerintahkan rekannya yang ada di Padang untuk memantau dan melakukan pendampingan kepada klien.

0 komentar:

Posting Komentar